lakukan seperti untuk tuhan

Untukitu ingatlah bahwa setiap perbuatan kita Tuhan tahu dan kita tidak dapat bersembunyi. (SAC~) GBUs.. Jangan lakukan segala sesuatu bahkan pelayanan hanya untuk dinilai & untuk menyenangkan manusia saja. Tidak ada faedahnya. Lakukan segalanya seperti untuk Tuhan #NilaiKerajaan By Chandra Juliar Syalom, SAC~ 1 Pahami bahwa bos Anda bukanlah manusia, melainkan Tuhan Yesus. Tidak peduli apa yang Anda lakukan dan untuk siapa Anda bekerja karena Anda bekerja untuk Yesus. Kolose 3: 23-23 membuat fakta itu dengan sangat jelas. Bos duniawi Anda mungkin tidak masuk akal dan memperlakukan Anda dengan keras, namun Anda bekerja untuk Yesus. Didalam Alkitab dikatakan manusia harus menjaga kekudusannya sama seperti Allah yang Kudus. Ini yang membedakan antara Pencipta dan yang dicipta. Pencipta Mahakudus, yang dicipta ini belum kudus sempurna karena jatuh dalam dosa. Oleh sebab itu, Allah ingin manusia hidup kudus dan memuliakan Tuhan. MelayaniSeperti Tuhan Yesus. Submitted by admin on Wed, 25/07/2012 - 16:18 Tags. Artikel; Apa yang Yesus Kristus lakukan dalam percakapan dengan "konseli-Nya"? 1. Tuhan Yesus datang dan berjalan bersama mereka (Lukas 24:15). Untuk Alkitabmemberitahukan, apa pun yang kamu lakukan, lakukanlah itu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Pengorbanan-Nya dibangun atas dasar agar Bapa dimuliakan dan janji Allah digenapi melalui hidup-Nya. Seluruh pengorbanan dan pelayanan Yesus di dunia ini diarahkan pada satu gol yang jelas, yaitu Bapa dimuliakan dan genaplah janji Bapa Site De Rencontres Haut De Gamme. Lori Official Writer Denzel Washington adalah salah satu aktor yang paling diperhitungkan di Hollywood. Sepanjang sepak terjangnya di dunia peran, Denzel sudah meraih penghargaan dua kali Oscar, tiga kali Golden Globe dan 1 kali Tony sangka sosok Denzel bisa dibilang merupakan salah satu aktor yang nggak malu menunjukkan identitas dirinya sebagai Kristen. Dia bahkan mengakui kalau kesuksesan karir yang didapatnya saat ini adalah sebagai kesempatan untuk melayani Tuhan dan Juga Denzel Washington Jadikan Tuhan yang Pertama dari SegalanyaDalam suatu kesempatan Denzel menyampaikan kalau hal paling penting dalam hidupnya adalah Tuhan. “Segala yang saya punya adalah oleh karena anugerah Tuhan. Itu adalah hadiah,” katanya. Selain itu, Denzel ternyata dikenal sebagai pribadi yang mengutamakan Tuhan di atas dari segala sesuatunya. Dia pernah bilang, “Jadikan Tuhan di tempat pertama dalam segala hal yang Anda lakukan.”Dari pernyataan ini, kita bisa tahu kalau prestasi yang didapatnya bukan cuma berasal dari keahliannya sendiri dalam memainkan peran di setiap film yang dimainkannya. Tapi lebih dari itu, semua bakat yang ada di dalam dirinya nggak terlepas dari campur tangan TuhanSebagai orang percaya, kita tahu persis bahwa dibalik ketaatan dan kesetiaan kepada Tuhan ada keberhasilan yang menyertainya. Tuhan akan selalu menyertai orang-orang yang selalu bersandar kepada-Nya. Hal itulah yang dilakukannya kepada Abraham, Daud, Musa, Daniel, Paulus dan banyak tokoh Alkitab lainnya. Dan tak heran kalau Denzel pastinya juga mengalami hal itu. Segala prestasi yang dia dapatkan adalah hasil ketaatan dan kesetiaannya kepada orang percaya, kita dipanggil untuk jadi pribadi yang punya nilai di atas rata-rata. Tuhan nggak pengen kita jadi orang yang biasa-biasa aja atau orang yang mencapai hal yang rata-rata aja. Kita dipanggil untuk menjadi pribadi yang unggul atau excellent. Gimana caranya supaya kita bisa jadi pribadi yang unggul? Pertama kita harus menjadikan Tuhan sebagai yang terutama dari semua aspek hidup kita. Kedua, kita harus mulai membangun lima karakter ini dalam diri kita, yaitu1. Rendah HatiJadi pribadi yang excellent nggak bakal terjadi kalau kita nggak rendah hati. Orang yang sombong biasanya akan menyembunyikan kekurangannya, tapi orang yang rendah hati akan terbuka dengan kekurangannya dan bertekad untuk mengubah kelemahan itu menjadi kekuatan. Itu sebabnya orang yang rendah hati akan selalu mengandalkan Tuhan karena lewat pertolongan Tuhanlah kita bisa jadi pribadi yang unggul.“Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.” Yakobus 4 6b2. Bekerja lebih ekstraKeunggulan itu bisa dikembangkan dan dipelajari. Nggak ada seorang pun yang terlahir jadi unggul dalam hidupnya. Sebaliknya, untuk menjadi pribadi yang unggul kita harus melatih dan mengembangkan diri sepanjang waktu. Jadi, setialah terlebih dahulu pada perkara-perkara kecil, saat kamu tekun melakukannya yakinlah bahwa Tuhan pun akan mempercayakanmu perkara yang lebih besar.“Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.” Yakobus 1 2-43. Jadilah pribadi yang skeptis 1 Yohanes 1 11 berkata supaya kita nggak mudah percaya kepada setiap roh, tetapi kita harusnya menguji roh-roh itu’. Untuk jadi pribadi yang unggul kita harus berpikir skeptis atau kritis. Kalau kamu adalah seorang pemimpin, menjadi skeptis berguna membantumu mengambil keputusan yang tepat. Atau bertanya dengan pola pikir skeptis sangat membantumu untuk menganalisis sesuatu dengan baik dan memutuskan untuk bertindak lebih hati-hati. Sehingga apa yang kamu lakukan dan putuskan adalah sesuatu yang sudah lebih dulu dipertimbangkan dan dipikirkan dengan Melakukan segala sesuatu dengan maksimalBakat sama sekali nggak menentukan keunggulan seseorang. Tapi keunggulan itu bicara soal sikap dan cara hidup kita sehari-hari. Sebagai orang percaya, Tuhan sudah menentukan standar yang tinggi atas hidup kita yaitu untuk menjadi pribadi yang sempurna dalam segala sesuatu 2 Korintus 8 7. Dalam artian, kita harus melakukan segala sesuatu dalam hidup kita sepenuhnya. Kalau kamu adalah seorang karyawan, berarti kamu harus melakukan pekerjaanmu dengan maksimal. Bahkan sebagai pelayan Tuhan pun kita dituntut untuk melakukan pelayanan kita dengan sepenuh hati seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia Kolose 3 23.5. Fokus pada standar Tuhan, bukan standar manusiaJadi pribadi yang excellent artinya kita nggak lagi serupa dengan dunia. Kita nggak lagi membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Sebaliknya, kita harus menjadikan standar yang ditetapkan Tuhan sebagai standar dalam hidup kita. Jadi, jangan pernah mengukur keberhasilan atau keunggulanmu dengan keunggulan orang lain. Karena kita hanya akan jadi orang yang melakukan sesuatu yang besar hanya karena dasar persaingan. Ingatlah, sesuatu yang dilakukan dengan dasar persaingan hasilnya nggak bakal pernah bertahan lama. “Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain.” Galatia 6 4Semoga artikel ini mengingatkan kita kembali supaya mengejar apa yang berharga bagi Tuhan dan belajar untuk tetap setia dalam perkara-perkara kecil. Sumber Halaman 1 RHEMA HARI INI Kolose 323 Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Martin Luther King, Jr pernah berkata, “Kalau seseorang menjadi penyapu jalan, ia semestinya menyapu seperti Michaelangelo melukis, seperti Beethoven menggubah musik atau seperti Shakespeare menulis syair. Ia semestinya menyapu jalan begitu baik sehingga semua penghuni langit dan bumi berhenti untuk berkata, Di sini hidup seorang penyapu jalan yang hebat, yang melakukan pekerjaannya dengan baik.” Sungguh luarbiasa, apa yang disampaikan Martin Luther King. Mungkin banyak dari kita yang berpikir, “Ah, hanya menyapu jalan saja mengapa harus sebegitunya?” Namun makna di balik perkataan ini adalah segala sesuatu dimulai dari hal yang paling kecil. Apapun itu, belajarlah untuk melakukannya dengan sebaik mungkin dan bukan hanya asal-asalan saja. Bersyukur renungan hari ini mengingatkan kita untuk melakukan segala sesuatu dengan kesungguhan hati. Kerjakanlah seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Sebagai ibu rumah tangga, rawat dan layani keluargamu sebaik mungkin. Sebagai seorang dokter, misalkan lagi kita sebagai dokter, layani pasien dengan ketulusan dan kerelaan. Apapun tugas dan pekerjaan yang kita lakukan adalah untuk melayani dan memuliakan Tuhan. Maka Tuhan yang melihat, akan mengingat kita dan menyediakan upah serta mahkota di sorga. RENUNGAN Segala APAPUN yang kita lakukan, LAKUKANLAH seperti untuk Tuhan APLIKASI 1. Coba Anda perhatikan, bagaimana kebiasaan Anda dalam melakukan sesuatu, asal-asalan ataukah Anda berjuang mempersembahkan yang terbaik? 2. Setelah menerima renungan ini hari ini, apa komitmen Anda agar memiliki hidup yang layak di ingat? 3. Apa yang akan Anda kerjakan agar Anda bisa menjadi pelaku dari renungan hari ini? DOA UNTUK HARI INI Bapa ampuni kami jikalau kami sering asal-asalan dalam melakukan segala sesuatu. Kami mau berubah dan mengupgrade diri kami Tuhan untuk melakukan semuanya seperti untuk-Mu. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin. Kenapa sebagian anak yang dibesarkan dalam keluarga Kristen benar-benar berbalik pada Yesus Kristus, benar-benar hidup dalamnya, dan membagikannya dengan orang lain, sementara anak lain dilingkungan yang sama jatuh kerohaniannya selama masa remaja mereka? Semua rutinitas gereja menjadi candu bagi mereka dan mereka tidak bisa peka tentang Tuhan. Ini pertanyaan yang kompleks dan sudah lama merupakan pergumulan pemimpin Kristen. Tentu saja ada banyak factor yang terlibat disetiap kasus. Tidak ada satu jawaban untuk semua masalah. Tapi ada satu hal yang terus muncul dalam hubungan saya dengan keluarga Kristen dan pemimpin pemuda, dan saya tidak bisa melarikan diri dari pentingnya hal itu. Itu merupakan kebenaran yang dinyatakan dalam Galatians 67-8 “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu” TLB. Menuai apa yang kita tabur berlaku dalam setiap kehidupan kita, tapi salah satunya adalah hubungan kita dengan anak kita. Kita akan menuai apa yang kita tabur dalam mereka. Dan sayangnya, apa yang kita tuai dalam mereka tidak hanya bagaimana kita memperlakukan mereka atau apa yang kita katakan pada mereka, tapi bagaimana kita belaku dihadapan mereka. Dengan kata lain, kita tidak bisa mengharapkan anak kita melampaui kita dalam hal rohani atau menjadi lebih daripada kita. Itu menjadi tanggung jawab kita untuk menjadi teladan dihadapan mereka sesuai dengan harapan kita pada mereka. Inilah cara Model Orangtua memperlakukan kita. Saat dia mengatakan apa yang seharusnya kita lakukan, dia membuat standar dari teladannya sendiri. “tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.’” 1 Peter 115-16, TLB. Kekudusannya memberikannya hak untuk memerintahkan hal yang sama pada kita. Kita mungkin sedikit tidak mau jika dia memerintahkan sesuatu yang lebih dari yang ditunjukannya. Tapi sebaliknya, dia membuat pola yang sempurna bagi kita untuk diteladani. Tuhan Yesus menggunakan pendekatan yang sama terhadap muridnya. “sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.” John 1315, TLB. Dia menetapkan suatu standar yang tinggi karena dia tahu kita tidak bisa melampaui yang sudah ditetapkan. “Aku berkata kepadamu Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya” John 1316a, TLB. Jika kita memperlakukan anak kita seperti Tuhan memperlakukan kita, kita harus menetapkan suatu teladan untuk semua yang kita inginkan mereka lakukan. Teladan yang buruk dihadapan anak kita akan berdampak pada generasi mendatang. Tuhan pengampun dan belas kasih, tapi dia memperingatkan bahwa anak-anak akan merasakan dampak dosa orangtuanya 3 sampai 4 generasi Num. 1418. Apakah itu berarti bahwa Tuhan meletakan kutuk pada 3 sampai 4 generasi, atau itu sesuatu yang diberikan melalui keturunan sehingga mengutuk mereka? Saya pikir tidak demikian. Tapi dosa menciptakan suatu keadaan tertentu dalam keluarga, secara psikologi dan rohani, suatu keadaan yang berdampak pada karakter anak kita. Saat mereka menikah, mereka mungkin akan menciptakan lingkungan keluarga yang sama seperti yang mereka alami saat mereka bertumbuh dan melihat dosa yang kita perbuat, bersama dengan akibat-akibat tidak baik lainnya. Sebenarnya, keluarga yang mereka buat mungkin lebih buruk dari kita. Saya bisa melihat itu sebagai keluarga Kristen dimana orangtua bertengkar setiap waktu. Hanya sedikit sekali kasih seperti Kristus yang ditunjukan pada anak mereka. Tuhan Yesus tidak diijinkan memainkan peran yang penting dalam kehidupan keluarga mereka dan hal dimana Kristus sering disebut adalah saat mereka mengkritik orang Kristen lain. Tapi didepan teman-teman Kristen, orangtua mereka menjaga muka “orang Kristen yang baik” Anak mereka melihat kemunafikan itu, memutuskan itu bukan untuk mereka, menolak Kekristenan, dan membangun keluarga sekuler saat mereka menikah. Saya bertanya berapa banyak generasi yang akan terkena dampak dosa orangtua itu? Tuhan berkata setidaknya 3 sampai 4 generasi. Dan tidak ada jaminan bahwa walaupun ada seseorang kemudian mengenal Kristus dan membalikan hal itu. Jika itu terjadi, itu seluruhnya anugrah Tuhan. Sekarang waktunya untuk menghentikannya, waktu untuk menyerahkan diri kita untuk dikontrol oleh Roh Kudus dan menjadi seperti apa yang dikehendaki Tuhan, waktu untuk mulai membentuk teladan seperti Kristus didepan anak kita dan memperbaiki setiap kerusakan yang mungkin sudah terjadi. Nabi Yesaya berseru pada orang-orang dimasanya agar hati mereka kembali pada Tuhan. Dia membuat janji yang indah ini jika mereka mau berbalik “Engkau akan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan memperbaiki dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan. Engkau akan disebutkan yang memperbaiki tembok yang tembus, yang membetulkan jalan supaya tempat itu dapat dihuni.Isa. 5812, KJV. Dia terutama menunjuk pada membangun kembali tembok dan jalan Yerusalem, tapi kita tidak boleh kehilangan aplikasi rohaninya. Jika orangtua yang percaya mau menyerahkan dirinya pada Tuhan dan melakukan kehendakNya, mereka dan anak mereka akan mampu memperbaiki kerusakan banyak generasi dan mendapat sebutan “yang membetulkan keturunan,” dan “yang membetulkan jalan supaya itu dapat dihuni.” Kita tidak bisa menyelesaikan penurunan keluarga Kristen. Keluarga kita bisa berbeda. Tuhan tidak akan menerima alasan seperti, “tapi itu cara saya dibesarkan,” atau “itu cara ayah dan ibu memperlakukan saya.” Jika apa yang kita lakukan itu salah, kita perlu mengubahnya. Saat kita berbalik pada Tuhan dalam penyerahan dan kepercayaan, dia akan menolong kita memperbaiki apa yang sudah hancur dan memperbaiki jalan supaya itu dapat dihidupi. Generasi yang berikutnya akan berterima kasih pada kita untuk itu. Ada beberapa perkataan lama yang sering diulang-ulang bahwa sebagian dari kita mampu melewati waktu-waktu itu salah satunya, “tindakan bicara lebih keras dari perkataan”; yang lainnya, “Anda bicara terlalu keras sehingga saya tidak bisa mendengarnya.” Itu semua tidak ditemukan dalam Alkitab, tapi pemikiran itu jauh dari Alkitab. Rasul Paulus berkata, “Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus” 1 Cor. 111, TLB. Kepada yang lain dia berkata, “Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.” Phil. 49, TLB. Saya bertanya jika kita bisa mengatakan hal itu pada anak kita. Salah satu kata-kata basi yang sering mencerminkan pendekatan kita tapi lebih baik dari yang diatas, “lakukan seperti yang aku katakan, tidak seperti yang aku lakukan.” Setan pasti yang menginsiprasikan hal itu, dan jika kita terus menggunakannya, kita bisa memastikan anak kita akan menjadi lebih memberontak. Pada seorang pastor muda, Paulus menulis, “…..Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu” 1 Tim. 412, NASB. Dia tahu jemaat dimana Timotius ada tidak mau mendengarkan dia jika mereka tidak melihat hidupnya merupakan teladan dari perkataannya. Prinsip yang sama dihubungkan dengan orangtua dan anak. Kita seharusnya bisa mengatakan, “lakukan seperti kataku, dan seperti perbuatanku.” Dan anak-anak bisa melihat kepalsuan yang ada. Sebagai contoh, kita ingin anak kita supaya baik. Kita mengajar mereka untuk bicara sopan kepada orang lain. Tapi mereka mungkin mendengar kita bicara tidak baik pada teman kita, atau mendengar kita bicara tidak sopan satu sama lain atau kepada mereka. Mereka mungkin melakukan seperti yang kita lakukan daripada yang kita katakana. Kita mengajar anak kita untuk jujur. Tapi saat kita semua antri tiket pertunjukan, kita berkata “katakana kalau kita hanya 11 orang.” Atau mereka mungkin mendengar kita membahas betapa kita berhasil menipu penjual tiket itu walau kita tahu itu melanggar hukum. Dan kita tidak bisa mempersalahkan orang lain selain diri sendiri saat kita melihat mereka berbohong atau menipu. Kita mengajar mereka untuk tidak menipu. Tapi kita menyombongkan diri karena petugas pasar mengembalikan uang lebih dan kita tidak mengembalikan uang itu pada pemilik sebenarnya. Dan anak kita mulai percaya kalau mencuri itu diperbolehkan dalam keadaan tertentu. Kita ingin anak kita belajar bahwa merengek tidak bisa membuat mereka mendapatkan apa yang diinginkan. Tapi kita sering merengek pada mereka saat mereka tidak menyenangkan kita, dan kita mungkin merengek pada sesama saat keadaan jadi lain. Jadi mereka akan terus merengek selama masa kanak-kanak dan masa muda mereka. Dan mereka akan melakukan itu saat mereka menikah, dan siapa yang tahu berapa banyak orang yang akan merasa menderita karena teladan kita yang buruk? Ilustrasi tentang itu sangat banyak. Kita mengajarkan mereka bahwa Tuhan akan memenuhi kebutuhan mereka, kekawatiran tidak mendapat tempat dalam kehidupan orang Kristen. Tapi kita khawatir menjadi sakit saat ada masalah dan mencari ketenangan melalui obat-obat. Kita mencoba mengajarkan mereka untuk mendengar kita saat kita bicara. Tapi kita sering terlalu sibuk untuk bisa memperhatikan apa yang mereka katakan. Seringkali kita berteriak pada mereka saat kita menyuruh mereka untuk memelankan suara, atau meminta mereka merapikan barang saat barang kita berserakan dimana-mana. Seorang wanita menceritakan kalau orangtua mereka membersihkan mulut mereka dengan sabun karena dia berkata “golly” atau “gee” ketika dia masih kecil. Tapi dia mendengar lewat dinding kalau mereka saling memaki. Seperti anda bayangkan, permasalahan emosinya pasti sangat besar. Kita ingin anak kita menepati janji, tapi janji kita pada mereka sangat tidak berarti. Kita mendorong mereka untuk tidak materialistic, tapi mereka mendengar kita mengeluh tentang rumah yang kecil, mobil yang kurang baik atau pakaian yang kurang bermodel. Kita mengatakan kalau mereka harus berjalan dengan Tuhan, tapi mereka sedikit melihat kita memberikan waktu untuk Firman dan doa. Kita mengajarkan mereka pentingnya bersama umat Tuhan hari minggu. Tapi kita tinggal dirumah untuk alasan sepele, atau mungkin pergi mendaki dan memancing selama kebaktian. Sebagai orang percaya kita ingin mereka memperhatikan kebutuhan dunia yang terhilang ini, tapi kita sendiri jarang menyebut tentang misionaris atau berdoa bagi mereka dalam keluarga. Jika kita ingin anak kita menjadi seperti keinginan Tuhan, maka kita harus menunjukan teladan. Kegagalan kita terhadap hal ini sangat menyedihkan, tapi ada yang lebih menyedihkan, yaitu kita tidak mau mengakuinya. Sering kita berkeras bahwa tidak ada yang salah dengan cara hidup kita atau teladan yang kita buat. Dan ketidakjujuran terhadap diri kita menjadi sumber kehancuran kita. Anak-anak bisa melihat melalui kemunafikan itu, dan itu menghancurkan mereka. Mungkin kita bisa menyebut masalah dasarnya sebagai “rut Christianity.” Rut Christians mungkin orang percaya dalam tingkat yang belum dewasa atau mereka hanya tahu kosa kata Kristen tanpa tahu maknanya. Walau begitu mereka tetap menjaga rutinitas, pola keagamaan yang harus mereka lakukan. Mereka datang kegereja secara rutin –mungkin tidak sesering yang seharusnya, tapi cukup sering untuk tetap menjaga image yang baik. Mereka memberi uang pada gereja –mungkin tidak sebanyak yang seharusnya, tapi cukup untuk meyakinkan orang lain mereka benar-benar tulus memberikannya pada Kristus. Mereka mungkin menerima tanggung jawab dalam gereja; bagi mereka pekerjaan gereja penting. Tapi dengan sistematik dan dengan ahli mereka menutupi kesalahan, dosa, pergumulan, cobaan, kelemahan, ketegangan, dan konflik, yang bisa menghancurkan image “orang Kristen yang baik” yang ingin mereka tunjukan. Mereka tidak pernah menikmati kehadiran Kristus secara hidup, atau membiarkan Dia mengontrol setiap detil hidup mereka. Dia hanya menjadi Juruselamat hari minggu, tapi mereka mencoba dengan sungguh-sungguh membuat orang lain berpikir Dia nyata bagi mereka. Mereka mungkin marah-marah disepanjang jalan menuju gereja. Tapi saat mereka turun dari mobil mereka meletakan senyum hari minggu mereka dan menyapa orang lain dengan suara suci hari minggu mereka. Dan anak-anak berpikira, “itu tidak benar. Tuhan tidak benar. Dia tidak membuat perbedaan dalam cara hidup mereka. Ini hanya permainan.” Kemudian mereka melihat ketidakbahagiaan hidup orangtua mereka, rutinitas yang membosankan selama satu minggu –bekerja, makan, membaca, berjalan, nonton TV, pergi tidur, terus menerus, hari demi hari. Dan Yesus Kristus tidak ada bagian didalamnya. Mereka merasa bahwa orangtua mereka bekerja terus menerus karena mereka tidak bisa lain. Mereka mendengar tentang sukacita dan damai serta makna yang Yesus bawa; mereka mungkin mendengar orangtua mereka memberikan kesaksian tentang itu digereja. Tapi mereka lebih tahu. Mereka melihat bagaimana orangtuanya hidup. Jadi anak-anak sering melakukan salah satu dari ini –mereka membuang semuanya, dan secara terbuka menolak Kekristenan, atau mereka menjadi kosong dan sama seperti orangtua mereka. Sebagian bisa mengenal Kristus dan menjadi nyata! Bersyukur untuk itu. Tapi mereka mungkin minoritas. Sebagian orang berkata, “kenapa gereja tidak berbuat sesuatu mengenai situasi itu? Kenapa gereja tidak menunjukan kepada mereka kalau Kristus itu nyata, kalau dia bisa membuat perbedaan cara orang hidup?” Mungkin kita perlu mengingatkan kalau pastor, pemimpin pemuda, pengajar, dan pekerja gereja adalah ayah dan ibu dirumah kita masing-masing. Gereja kita tidak lebih baik dari rumah kita. Apa jawabannya? Sebagian mungkin berkata, “ya, saya akan jujur. Saya akan membuang semua kebiasaan baik, dan menjauhi gereja, memamerkan dosa saya kepada semua orang, dan membiarkan orang tahu kalau Tuhan tidak nyata bagi saya.” Saya mengenal orang yang sudah melakukan itu, tapi itu tidak menyelesaikan masalah. Kenyataannya, hanya mempersulit persoalan mereka dan menyebabkan anak mereka lebih memberontak. Setidaknya ada 4 hal yang bisa menolong kita 1. Mengenal Yesus Kristus dengan baik. Ini membutuhkan waktu mempelajari Firman dan berdoa. Tapi kita harus melakukannya! Kehidupan Kekristenan kita tidak akan lebih dari itu kecuali Yesus Kristus menjadi teman kita, kecuali tujuan hidup kita adalah mengenal dia secara intim dan baik, seperti Paulus Phil. 310. 2. Biarkan Yesus Kristus membentuk kita sekehendakNya. Maka kita tidak harus berpura-pura lagi atau membuat orang lain mengira kita hebat dalam rohani. Kita akan menjadi anak Tuhan yang murni rendah hati. Kita harus mulai dengan menyerahkan diri kita kepada Yesus Kristus, kemudian bergantung padanya setiap saat untuk menolong kita menjadi sesuai kehendaknya. Tidak ada jalan lain untuk berubah secara signifikan. Kita bisa berbuat apa saja sampai kita bosan dengan kegagalan kita. Tapi saat kita memberikan hidup kita pada Yesus Kristus, dia menolong kita membuat perubahan yang diperlukan. 3. Biarkan Yesus Kristus terlibat dalam setiap detil kehidupan kita. Inilah yang ingin kita ajarkan pada anak kita lihat bab berikut tapi kita harus melakukannya lebih dulu. Kristus tertarik akan setiap segi kehidupan kita, dan kita perlu membagi setiap hal dengan dia. Dia ingin kita mengetahui kehadirannya setiap saat, mencari hikmatnya dalam setiap keputusan, bicara padanya tentang setiap hal, dan membuat dia menjadi bagian dalam setiap percakapan anda. Hasilnya merupakan jawaban doa dan kenyataan bimbingan Tuhan sehingga kita bisa memperlihatkan pada anak kita bertapa luarbiasa Tuhan itu. 4. Jujur terhadap kesalahan kita. Kita memiliki nature dosa, dan ada saat dimana itu mengontrol hidup kita. Kita mungkin kehilangan kesabaran terhadap anak kita atau menjadi aneh dan pemarah bagi mereka. Jangan takut mengakuinya. Jika kita bertindak egois, tidak seperti Kristus, maka kita berhutang maaf pada mereka. Perintah untuk mengakui kesalahan kita pada sesama didalamnya juga anak-anak kita James 516. Sebagian orang protes, “tapi itu akan menghancurkan kepercayaan mereka terhadap saya.” Tidak itu tidak akan terjadi. Mereka sudah tahu kita berdosa. Menolak mengakuinya merupakan hal yang menghancurkan kepercayaan itu. Mengakui kesalahan kita akan membangun kepercayaan dan rasa hormat serta mendekatkan kita dengan mereka. Saya ingat pernah memarahi salah satu anak laki-laki saya karena hal yang diperbuatnya, kemudian menyadari kalau saya sudah berlebihan. Saat saya mengatakan padanya saya sudah salah, dia meletakan tangannya dibahu saya dan berkata, “tidak apa-apa. Tidak ada yang sempurna.” Saya sudah tahu itu, tapi pengalaman itu mendatangkan kedekatan. Hal itu terjadi tidak hanya sekali tapi lebih sedikit dari sebelumnya. Mengakui kesalahan kita juga mendorong anak kita untuk jujur terhadap hal itu, daripada berpura-pura. Dan bukankah ini yang kita doakan dan usahakan? Biarlah Tuhan menolong kita membuka hati kita dihadapannya, kemudian dengan jujura dan terbuka mengakui kesalahan kita pada sesama. Itu akan membuka komunikasi dengan anak kita dan membangun ikatan yang kuat sehingga setan tidak bisa menghancurkannya. Salah satu peringatan yang harus dinyatakan sebelum menyelesaikan pembahasan ini. Teladan orangtua yang buruk bukan satu-satunya alasan anak menjadi tersesat. Ada banyak factor lain, setidaknya kekerasan hati anak. Kita perlu hati-hati menyalahkan orangtua karena anak mereka yang memberontak. Daripada kita menghindari mereka dan mengkritik, mereka perlu persahabatan kita yang penuh kasih, dukungan simpatik, dan berdoa dengan setia. Ayat Bacaan Kolose 323 ======================== “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” Pernah gak kalian dihadapkan pada keadaan dimana orang yang sangat menyebalkan atau pernah menyakiti hati kita mendapatkan musibah sehingga membutuhkan pertolongan kita? Mungkin rasa hati ingin bilang, “lo mau jungkir balik juga emang gue pikirin?”, “makan tuh derita!” “suruh siapa kelakuan begitu, dsb”. Atau ketika kita dihadapkan untuk mengampuni dan mengasihi orang yang sudah menjahati kita? Sebab jika kita mengaku anak Allah, kita tentunya harus bisa dan mau untuk mengampuni orang yang bersalah pada kita. Lakukan untuk Tuhan Pasti setiap orang pernah mengalami hal seperti itu, karena manusia itu berbeda-beda, seringkali ketidakcocokan menyebabkan terjadinya suatu perselisihan yg membawa pada perasaan kesal atau bahkan benci. Saudara seiman, sebaiknya kita mengingat bahwa manusia itu banyak kurangnya, setiap orang memiliki kelemahan-kelemahan yang senantiasa membawa kejatuhan bagi diri orang itu sendiri maupun orang-orang disekitarnya. Maka ketika kita dihadapkan pada mengampuni atau menolong orang yang tidak kita suka, Firman Tuhan menyatakan agar kita melakukan segala sesuatu seperti kita melakukannya untuk Allah kita. Luar biasa, bahwa dengan begitu artinya kita harus melakukan yg terbaik bagi orang-orang tersebut, sama baiknya seperti kita melakukan hal apapun untuk Allah. Saudara sekalian, mari…janganlah pandang manusianya, sebab manusia selalu bisa mengecewakan kita, tapi Allah tidak, dan Dia mau kita memiliki sifat Ia yang Maha mengasihi dan Maha mengampuni. Belajar untuk melakukan segala sesuatu dalam nama Tuhan kita, Yesus Kristus. Unduh PDF Unduh PDF Terdapat banyak cara yang berbeda untuk memuliakan Tuhan, tergantung dari latar belakang dan gaya hidup Anda. Ada beragam cara untuk menyembah-Nya; namun akan lebih baik jika Anda melakukannya dengan rendah hati, tidak terlihat ketika melayani sesama, menjadi dermawan dan hidup sehati. Langkah 1Mulailah memuliakan Tuhan dengan rasa takut dan hormat yang dalam Takut membuat-Nya marah, “Biarlah segenap bumi takut kepada TUHAN, biarlah semua penduduk dunia gentar terhadap Dia.” Dari ayat kitab Mazmur Mazmur 338[1] 2 Sadari bahwa "keagungan, pujian, kenamaan, perbedaan” adalah kata-kata yang searti dengan “kemuliaan”.Nyanyikan tentang jalan-jalan Tuhan untuk memuliakan-Nya. “Mereka akan menyanyi tentang jalan-jalan TUHAN, sebab besar kemuliaan TUHAN.” Mazmur 1385 3 Muliakan Tuhan melalui perbuatan “kasih”, sebagai contoh, di hari penghakiman mereka akan bertanya “Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?”[2] Dan Raja itu akan menjawab mereka Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” Iklan 1 Sembahlah Dia di manapun Anda berada. Anda dapat menggunakan sebagian atau seluruh tempat di ruangan di rumah Anda sebagai tempat untuk berdoa dan menyembah-Nya. Misalnya, Anda tidak perlu memaksakan diri untuk pergi menyembah Tuhan dengan orain lain. Namun Anda mungkin dapat melakukannya lebih sering di rumah, baik sendiri maupun dengan orang lain. Anda dapat menempatkan lilin, dupa, serta gambar atau patung dari sosok spiritual penting yang ada di dalam kepercayaan Anda, jika ada. Anda dapat mengganti benda-benda kepercayaan Anda di ruang doa ini, tergantung dari kepercayaan yang Anda anut. Sebaliknya jika Anda bukan pemeluk dari suatu agama, Anda dapat memilih benda-benda signifikan yang memiliki arti bagi Anda untuk ditempatkan di altar. Berdoa di rumah bisa menjadi sebuah kebiasaan yang baik untuk menerapkan kebiasaan berdoa dengan benar. Anda dapat menggunakan ruang doa Anda untuk memanjatkan doa harian atau meditasi. 2 Adakan pertemuan di ruang doa. Undanglah kenalan Anda untuk berbagi, dan lakukan pembicaraan dari hati ke hati dengan sesama penganut kepercayaan Anda. Berdoa dan menyembah dengan orang lain dapat memperbesar perasaan takjub Anda. Takjub adalah sebuah perasaan akan kekerdilan kita sebagai manusia di hadapan kebesaran dari suatu makna, tujuan, perwujudan, atau kehadiran.[3] Orang-orang yang mengalami perasaan takjub akan penciptaan berkemungkinan besar untuk menolong orang lain dan bekerja di dalam kelompok untuk kebaikan bersama.[4] Banyak tempat persembahan yang memiliki seni dan ajaran yang menginspirasi dan mengagumkan. Sering kali tempat-tempat tersebut mengandung dan mengajarkan simbol dari kepercayaan sebagai lambang doktrin yang penting. Juga, sebagai lambang kebersamaan dengan sesama di tempat tersebut. 3 Latih kebiasaan untuk berdoa dan meditasi. Doa dan meditasi dapat membantu Anda untuk menenangkan emosi negatif. Doa dapat juga dilakukan sebagai dukungan sosial yang mungkin tidak terlihat namun dapat menguatkan kesan diri yang positif. [5] Jika Anda berupaya untuk membiasakan diri berdoa, berdoalah di mana saja dan kapan saja. Cari sebuah tempat yang tenang dan waktu untuk membicarakan kekhawatiran serta hal-hal di dalam kehidupan yang Anda syukuri dengan Tuhan. Pertimbangkan untuk menulis sebuah jurnal doa. Anda dapat memilah rasa sakit emosional yang Anda rasakan di dalam kehidupan Anda serta melakukan orientasi diri terhadap hal-hal yang berarti bagi Anda. Studi memperlihatkan bahwa pasien yang menderita penyakit parah mendapatkan banyak manfaat secara fisik dan emosional, dengan menuliskan kesulitan serta pengalaman tidak baik lainnya di dalam jurnal. [6] Latih kebiasaan berdoa, meditasi, serta kepekaan spiritual secara teratur. Untuk melakukan hal ini, Anda perlu menenangkan diri dan berkonsentrasi untuk menghentikan pikiran-pikiran acak yang muncul. Pusatkan pikiran Anda dan buatlah suatu koneksi dengan sebuaj wujud kehadiran yang lebih besar. [7] Iklan 1 Lakukan hal yang kecil namun bermanfaat bagi orang lain secara sukarela, bukan untuk mencari perhatian. Di kehidupan sehari-hari, Anda dapat memuliakan Tuhan dengan melakukan tindakan-tindakan yang baik untuk sesama dengan cara yang lebih sederhana. Selain itu, membantu sesama dapat meningkatkan apresiasi, rasa senang, pencerahan, serta kualitas hidup Anda secara keseluruhan. Ubah hal-hal kecil dan menyenangkan yang Anda lakukan untuk orang lain menjadi hal yang baru bagi Anda. Bagaimana bisa Anda menempatkan kebutuhan orang lain di tempat yang sama dengan kebutuhan Anda sendiri, dan mengelak untuk menahan keinginan serta keluhan yang minor untuk hidup rendah hati di dalam dan di luar, untuk menyembah sesama dan Tuhan?[8] Bersabarlah dan biarkan mobil melaju menuju padatnya lalu lintas, dan kendarai secara perlahan, jangan secara tiba-tiba. Buatlah makanan untuk orang yang kelaparan, bukan hanya untuk seorang teman atau anggota keluarga. Tersenyumlah, bukan dengan bangga, namun dengan ramah seolah-olah sedang membukakan pintu untuk orang lain. Jadilah seorang rekan kerja yang produktif dan tenggang rasa, bukan sombong. Berikan pakaian atau kebutuhan lain untuk orang yang memang membutuhkannya. 2 Jadilah sukarelawan di sebuah organisasi atau kelompok yang membantu orang lain. Gunakan waktu untuk memastikan apakah Anda menemukan tempat yang cocok. Periksa pekerjaan yang sesuai dengan minat Anda. Anda mungkin bisa mencoba tempat ibadah atau lembaga amal di sekitar Anda, atau gunakan Yellow Pages dan cari di bagian “Pusat Sukarelawan” atau “Lembaga Sukarelawan”, atau online di dan untuk mencari pekerjaan sebagai sukarelawan di area sekitar Anda. Anda dapat mempertimbangkan tipe pekerjaan sukarela berikut[9] Mengajar atau menjadi pekerja sukarela di sekolah Menjadi penerjemah untuk imigran, jika Anda dapat berbicara dengan bahasa asing lain Melatih sebuah tim, jika Anda berolahraga Bekerja dan membersihkan taman lokal atau tempat penampungan hewan liar Bekerja di rumah sakit setempat, panti jompo, atau klinik Menelepon orang dari rumah dan menawarkan mereka untuk menjadi penggalang dana 3 Jangan menjadi terlalu berkomitmen dalam melakukan pekerjaan sukarela. Terlalu berkomitmen dalam membantu orang lain akan membuat Anda tertekan dan melukai kemampuan Anda sendiri untuk melayani orang lain dengan baik. Anda perlu meyakini bahwa Anda ingin dapat melakukan hal yang baik bagi orang lain dengan sikap yang baik pula. Gunakanlah waktu untuk mempertimbangkan apakah Anda memiliki waktu untuk melakukannya, sebelum berkomitmen untuk melakukannya. Jika Anda sudah berkomitmen, Anda dapat mencoba untuk menyelesaikan sebagian pekerjaan dan kemudian melakukan upaya yang lain. Bicarakan secara terbuka mengenai apa yang Anda pikirkan. Orang lain akan mengerti bahwa masing-masing individu memiliki kesibukan tersendiri dan mereka akan menghormati Anda jika Anda membicarakannya secara jujur kepada mereka. Jangan pernah merasa takut untuk kembali menjadi sukarelawan di organisasi yang sama, ketika Anda sudah memiliki waktu untuk kembali berkomitmen sebagai pekerja sukarela. Kembalilah melakukan pekerjaan sukarela tersebut, jika Anda merasa ingin. 4 Mintalah seseorang untuk melakukan pekerjaan sukarela bersama Anda. Melakukannya dengan orang lain kerap kali memberikan motivasi yang Anda butuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan Anda. Selain itu, Anda dapat memanfaatkan momen ini untuk mengakrabkan diri dengan orang baru yang mungkin Anda temui melalui pengalaman kerja ini. Pertimbangkan untuk melakukan pekerjaan sukarela dengan keluarga atau pasangan Anda. Hal ini dapat memberikan perspektif yang baik mengenai hubungan Anda dan dapat menciptakan sebuah makna tujuan di luar dari diri Anda. Iklan 1 Terimalah kesempatan dan batasan yang ada di dalam diri Anda. Jadilah proaktif mengenai siapa diri Anda dan apa yang dapat Anda lakukan mengenai diri Anda. Semakin sedikit hal yang harus Anda buktikan pada orang lain, semakin banyak yang dapat Anda lakukan untuk memuliakan Tuhan. Ketika Anda mengalami konflik dengan orang lain, ketahuilah apa yang yang menjadi tanggung jawab Anda. Mengetahui kekurangan Anda dan menerimanya akan membuat Anda belajar dari kesalahan tersebut dan tumbuh. Sikap semacam ini akan membantu menumbuhkan ikatan sosial yang kuat.[10] Sebagai contoh, jika teman Anda marah pada Anda karena Anda terlambat, janganlah menjadi defensif. Katakan pada mereka, “Saya minta maaf, saya akan lebih memperhatikan waktu saya.” Melihat dan menerima masalah akan membuat masalah tersebut menjadi tidak begitu menakutkan mungkin untuk ditangani. Perilaku positif ini dapat membantu Anda untuk membuat perubahan yang positif pada kebiasaan Anda. 2Berikan maaf dan rahmat lebih dari apa yang orang lain pantas dapatkan, lebih dari apa yang Anda ingin orang lain atau Tuhan berikan kepada Anda. Terimalah dan jangan terus singgah di dalam kesalan Anda maupun orang lain. Namun, berkonsentrasilah pada hal-hal khusus yang dapat Anda perbuat untuk memberikan rahmat Tuhan dan memperbaiki kehidupan melalui cara-cara yang lebih konkret, di saat Anda memiliki kesempatan melakukannya. 3Jangan terlalu sering memikirkan diri Anda. Perkuat diri Anda dengan kebaikan, kebenaran, kerendahan hati, rahmat dan ketenangan diri. Janganlah memperdaya atau berbuat curang tetapi cintailah pencapaian dan perilaku baik orang lain. Tidak terlalu mencemaskan diri membuat seseorang lebih baik dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Mengedepankan kepentingan orang lain dan tidak menuntut kesempurnaan diri, juga merupakan bentuk pelayanan terhadap Tuhan melalui ciptaan-Nya.[11] 4 Perlihatkan bahwa Anda merasa bersyukur. Rasa syukur menciptakan sebuah perasaan bahwa Anda mendapatkan manfaat baik dari orang lain, serta dari perilaku dan perkataan mereka. Ketika Anda menjadi lebih sadar akan ketergantungan Anda terhadap orang lain, ucapkan terima kasih kepada orang tersebut dan terimalah arti mereka di dalam hidup Anda. Bagikan harapan, kedamaian, dan lainnya yang Anda punya. Anda akan lebih menyadari bahwa Anda bukanlah segalanya. Tulis jurnal apresiasi. Kebiasaan ini akan meningkatkan sisi psikologis Anda. Tulis setidaknya tiga hal yang membuat Anda berterima kasih, dan lakukanlah setiap hari.[12] 5 Dorong orang lain untuk berbagi dan lakukan bagian Anda untuk tidak mementingkan diri sendiri. Terbukalah pada perkembangan diri dan ceritakan tentang penguatan kepada orang lain, tidak dengan paksaan, tuntutan, atau dengan menguasai orang lain. [13] Ketika Anda tidak menjadi pusat perhatian, Anda dapat bekerja untuk mendorong orang lain. Hindari perlakuan istimewa. Menguatkan orang lain akan menciptakan komunitas yang lebih kuat, yang dapat bekerja untuk kebaikan bagi sesama. Anda dapat menjadi seorang pemimpin yang hebat apabila Anda mengetahui cara yang efektif untuk menumbuhkan rasa pencapaian orang lain. Beberapa orang memiliki pengaruh yang berarti dan semasa hidupnya telah menjadi pemimpin spiritual yang hebat, seperti Buddha, Gandhi, Yesus Kristus, Martin Luther King dan Nabi Muhammad. 6 Hindari bertingkah seolah-olah Anda mengharapkan akan diberi penghargaan, dipuji dan dihujani dengan ucapan terima kasih atas apa yang Anda lakukan. Ini berarti seseorang berindikasi bahwa ia patut mendapatkan sesuatu atas perbuatan baik yang dilakukannya. Seseorang pada akhirnya akan marah dan sakit hati ketika ia merasa patut mendapatkan sesuatu tetapi tidak mendapatkannya. Sulit untuk mengasihi orang lain dan memiliki perilaku yang baik ketika seseorang merasa sakit hati, karena orang tersebut akan terpaku pada hal-hal yang tidak dimilikinya. Jika Anda merasa tidak berhutang pada orang lain, Anda bisa bekerja lebih bebas untuk orang lain tanpa mengharapkan imbalan. 7Latih kebiasaan melayani sesama, membantu yang lemah, dan jangan mencari atau peduli terhadap sebuah kesan atau realitas yang tidak nyata, “mobilitas yang mengarah ke atas” atau kebohongan seperti “apa yang akan menguntungkan seseorang, jika ia mendapatkan Dunia namun kehilangan jiwanya sendiri?” Jangan khawatir akan kesalahan Anda, tetapi buatlah hal tersebut menjadi hal yang bersifat sementara dan segera lanjutkan pencapaian Anda. Daripada menumbuhkan dan menyebarkan perasaan jengkel, berusahalah untuk tidak terlalu mencemaskan diri sendiri dan tetap bekerja dengan baik. Jadi, berkonsentrasilah pada gambaran yang lebih besar dan bantulah satu sama lain melalui pelayanan – dan memuliakan Tuhan dengan melayani baik orang yang biasa maupun orang miskin.[14] 8Selalu berasumsi bahwa Anda tidak memiliki semua jawabannya. Sering kali orang yang rendah hati lebih toleran terhadap sesamanya. Orang yang rendah hati tidak perlu menjadi agresif atau defensif akan kepercayaan mereka. Menjadi sabar dan mendengarkan gagasan serta apa yang dipercaya oleh orang lain, walaupun Anda mengalami kesulitan, membuat Anda memuliakan Tuhan melalui kedamaian dan kebaikan. Anda akan menjadi lebih kuat dan Anda dapat mempelajari Tuhan dan diri Anda sendiri lebih dalam. 9 Biarkan kedamaian dan kebaikan terjadi, tidak peduli apakah hal tersebut mungkin tidak dapat dimengerti atau terjadi di luar kendali lagi jalan Tuhan dengan bekerja di komunitas sukarelawan baik dengan usaha sendiri maupun di dalam kelompok seperti di tempat-tempat ibadah. 10 Hargai dan ketahuilah bahwa pengetahuan orang lain akan kepercayaan itu berbeda, baik itu lebih luas maupun lebih sedikit, dari pengalaman, pencapaian, keahlian, dan studi Anda. Muliakan Tuhan dengan menghadiahkan iman dan perilaku yang baik dengan keluwesan serta belasungkawa yang tulus terhadap duka dan ucapan selamat untuk momen yang menyenangkan. Muliakan Tuhan dengan mengakui usaha orang lain, dengan menerima siapa dan apa yang dapat mereka lakukan, serta menikmati waktu yang dihabiskan dalam kebersamaan dengan orang lain. Iklan Menurut Yosua pemimpin Israel setelah Musa “Berkatalah Yosua kepada Akhan Anakku, hormatilah TUHAN, Allah Israel, dan mengakulah di hadapan-Nya; katakanlah kepadaku apa yang kau perbuat, jangan sembunyikan kepadaku." Yosua 719 Young's Literal Translation[15] Iklan Peringatan Jangan memuji diri sendiri. “Jawab Yesus 'Jikalau Aku memuliakan diri-Ku sendiri, maka kemuliaan-Ku itu sedikitpun tidak ada artinya. Bapa-Ku lah yang memuliakan Aku, tentang siapa kamu berkata Dia adalah Allah kami.’” Yohanes 854 ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku.” [16] Tidak menghormati Tuhan termasuk memilih secara pribadi untuk tidak memberikan kesempatan, kebaikan, serta pengampunan; tidak membantu dalam keperluan pakaian, tempat berteduh, transportasi, makanan, dan perihal kesehatan. Namun Tuhan memberikan rahmat bagi pengampunan Anda, tergantung dari bagaimana Anda menerima rencana Tuhan untuk melakukan penebusan dan menyelamatkan umat manusia. Dikisahkan di dalam Kitab Suci bahwa ketika Yesus menyembuhkan orang yang buta sejak lahir, orang-orang Farisi mencoba untuk tidak menganggap Yesus namun tetap seolah memuja Tuhan. “Lalu mereka memanggil sekali lagi orang yang tadinya buta itu dan berkata kepadanya Katakanlah kebenaran di hadapan Allah; kami tahu bahwa orang itu orang berdosa. " Yohanes 924." Mereka terus memaksanya untuk mengaku, namun pengemis yang sebelumnya tidak dapat melihat tersebut memilih kebenaran untuk “memuliakan” Tuhan, dan ia menjawab, Apakah orang itu orang berdosa, aku tidak tahu; tetapi satu hal aku tahu, yaitu bahwa aku tadinya buta, dan sekarang dapat melihat." Yohanes 925 Iklan Tentang wikiHow ini Halaman ini telah diakses sebanyak kali. Apakah artikel ini membantu Anda?

lakukan seperti untuk tuhan